Di Balik Gelar Juara Liga Champions PSG 2025: Ada Skandal dan Kontroversi yang Mewarnai

Coltliq Ekajaya – 1tulah |

1TULAH.COM-Sebuah sejarah baru telah terukir di kancah sepak bola Eropa! Paris Saint-Germain (PSG), klub raksasa asal Prancis berjuluk Les Parisiens, akhirnya berhasil meraih gelar juara Liga Champions UEFA untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Kemenangan gemilang ini diraih setelah mereka melibas Inter Milan dengan skor telak 5-0 di partai final yang berlangsung di Stadion Allianz Arena, Munich, pada Sabtu, 31 Mei 2025 waktu setempat.

Lima gol kemenangan PSG dicetak oleh Achraf Hakimi (menit 12′), Désiré Doué (menit 20′, 63′), Khvicha Kvaratskhelia (menit 73′), dan Senny Mayulu (menit 86′). Dominasi mutlak PSG di laga puncak ini menunjukkan kualitas dan kerja keras tim yang luar biasa, mengakhiri penantian panjang mereka untuk mengangkat trofi paling bergengsi di Eropa.

Perjalanan Penuh Lika-liku Menuju Puncak Eropa

Perjalanan PSG menuju tahta juara Liga Champions bukanlah tanpa hambatan. Klub ini telah melalui jatuh bangun yang panjang. Di awal era 2000-an, PSG bahkan sempat terancam degradasi dari Ligue 1 dan menghadapi krisis finansial serius pada 2003, dengan kerugian mencapai 65 juta euro akibat proyek PSG Banlieue.

Situasi semakin memburuk saat Colony Capital mengambil alih kepemilikan klub pada 2006, membuat PSG harus berjuang mati-matian menghindari degradasi di musim 2006/07 dan 2007/08.

Titik balik datang pada tahun 2011 dengan kedatangan Nasser Al-Khelaifi bersama Qatar Sports Investments (QSI). Guyuran dana melimpah dari raja minyak Timur Tengah ini mengubah wajah PSG secara drastis, menjadikannya tak hanya klub terkaya di Prancis atau Eropa, tetapi juga salah satu yang terkaya di dunia.

Dengan dana besar, PSG mampu mendatangkan bintang-bintang top dunia seperti Zlatan Ibrahimovic, David Beckham, hingga trio Lionel Messi, Neymar, dan Kylian Mbappé. Gelar-gelar domestik pun dengan mudah mereka raih, membangun citra baru bagi PSG di kompetisi Eropa.

Sisi Gelap di Balik Gemerlap Kesuksesan: Skandal dan Kontroversi

Namun, di balik gemerlap prestasi dan kekayaan, PSG juga tak bisa dilepaskan dari berbagai skandal besar yang kerap menjadi sorotan dunia. Skandal-skandal ini tidak hanya melibatkan pemain atau suporter, tetapi juga sang bos besar, Nasser Al-Khelaifi.

Skandal Nasser Al-Khelaifi

Nasser Al-Khelaifi, presiden PSG, pernah dituduh melakukan ancaman pembunuhan. Insiden ini bermula saat PSG bertemu Real Madrid pada 2025, di mana Nasser dituduh mengancam staf Real Madrid setelah kekalahan 2-3. Meskipun kemudian ia dibebaskan dari tuduhan tersebut, insiden tersebut mencoreng citranya. Nasser juga sempat mendapat sebutan “tiran” dari pemilik Lyon, John Textor, setelah tindakannya yang brutal merusak peralatan ofisial Real Madrid karena kekesalan atas keputusan wasit. Rekaman aksi agresif ini, yang juga melibatkan direktur olahraga PSG saat itu, Leonardo, menjadi bukti kuat di mata publik.

Tidak berhenti di situ, Nasser Al-Khelaifi juga pernah dikaitkan dengan skandal perselingkuhan, pemerasan, dan kebocoran rahasia negara Qatar pada tahun 2022. Media Prancis, Liberation, melaporkan bahwa Nasser menjebloskan seorang pengusaha Prancis-Aljazair, Tayeb B, beserta keluarganya ke penjara selama 9 bulan. Tayeb diduga memiliki dokumen yang dapat membahayakan Nasser, dan baru dibebaskan setelah menyerahkan dokumen tersebut. L’Équipe menyebut dokumen itu berisi dugaan skandal korupsi Piala Dunia 2022 hingga soal perselingkuhan Nasser. Tiga orang, termasuk Tayeb B dan dua mantan polisi, bahkan sempat ditangkap terkait kasus ini, yang diklaim berakhir damai dengan perjanjian rahasia.

Selain itu, Nasser juga sempat terseret dalam skandal FIFAgate, di mana ia dituding melakukan cara ilegal untuk mendapatkan hak siar pertandingan Piala Dunia 2026 dan 2030.

Curhatan Ibu Pemain dan Insiden Perampokan

Gemerlap bermain di klub kaya raya seperti PSG ternyata tak selalu seindah kenyataan. Pada 2019, ibu Adrien Rabiot, Veronique, membuat pernyataan mengejutkan dengan mengatakan anaknya diperlakukan “bak tahanan” dan “disandera oleh klubnya sendiri”. Ia mengeluhkan budaya klub yang sangat mengekang pemain, terutama setelah Rabiot menolak memperbarui kontraknya. Veronique menyoroti perlakuan berbeda, seperti saat Rabiot dihukum karena terlambat latihan akibat ketiduran, sementara Neymar yang cedera justru diizinkan berpesta di Karnaval Rio. Rabiot juga sempat didenda karena tidak hadir di kamp pelatihan musim dingin karena neneknya meninggal, dan bahkan dilarang datang ke tempat latihan setelah menyukai postingan Patrice Evra yang merayakan kemenangan Manchester United atas PSG.

Selain itu, serangkaian insiden perampokan menimpa rumah para pemain PSG. Pada Maret 2021, rumah Angel Di Maria dan Marquinhos dirampok. Meskipun klub berjanji akan menjaga keamanan pemain 24 jam, insiden serupa kembali terjadi pada Oktober 2021 di rumah Andre Herrera. Bahkan, pada November 2021, dua pemain PSG Wanita, Kheira Hamraoui dan Aminata Diallo, menjadi korban serangan kekerasan. Penyelidikan kemudian mengungkapkan bahwa Diallo diduga menjadi otak serangan tersebut, dilatarbelakangi persaingan memperebutkan tempat di skuat utama.

Serangan Brutal Suporter PSG

Masalah pelik lain yang menghantui PSG adalah perilaku brutal suporter mereka. Ultras PSG dikenal dengan aksi serangan langsung terhadap pemain. Pada Maret 2022, full-back Layvin Kurzawa menjadi korban saat mobilnya dihadang dan diminta keluar oleh ultras yang marah karena PSG tersingkir dari Liga Champions. Ironisnya, Kurzawa tidak bermain dalam pertandingan tersebut dan hanya tampil 9 menit sepanjang musim itu.

Lionel Messi dan Neymar juga sempat menjadi sasaran. Pada 2023, saat rumor kepindahan mereka berhembus, suporter PSG berkumpul di tempat latihan dan melakukan serangan verbal. Tidak hanya itu, mereka membuat mural di tembok-tembok kota Paris yang berisi hinaan kepada kedua megabintang tersebut.

Bahkan pemain yang baru dirumorkan akan direkrut pun tak luput dari ancaman. Pada musim panas 2023, saat PSG dikaitkan dengan Dusan Vlahovic, ultras membentangkan spanduk berisi ancaman “Jika Anda datang, kami akan potong tiga jari Anda”, merujuk pada selebrasi Vlahovic yang dianggap bermakna supremasi Serbia atas Kosovo.

Terlepas dari berbagai skandal dan kontroversi yang melingkupinya, keberhasilan PSG meraih gelar Liga Champions musim ini tetap menjadi pencapaian monumental. Ini adalah bukti bahwa segala rintangan dapat diatasi dengan tekad, investasi, dan kerja keras yang tak kenal lelah, mengukuhkan posisi Les Parisiens sebagai kekuatan baru di puncak sepak bola Eropa. (Sumber:Suara.com)

 

Sumber : Di Balik Gelar Juara Liga Champions PSG 2025: Ada Skandal dan Kontroversi yang Mewarnai

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started