1TULAH.COM-Di tengah tantangan lahan rawa yang tergenang air hingga tujuh bulan dalam setahun, para petani di Desa Banyu Hirang, Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berinovasi.
Mereka tidak hanya menanam padi, melainkan menanam masa depan melalui metode padi apung, sebuah terobosan yang membawa harapan baru bagi ketahanan pangan daerah.
Kelompok Tani Karya Makmur: Pelopor Padi Apung di Lahan Rawa
Kelompok Tani Karya Makmur di Desa Banyu Hirang menjadi garda terdepan dalam mengimplementasikan metode padi apung. Inovasi ini mengubah lahan rawa yang sebelumnya dianggap tidak produktif menjadi sumber penghasilan dan ketahanan pangan. Hasil panen yang berhasil membuktikan potensi besar dari metode ini.
Bupati HSU, Sahrujani, menegaskan pentingnya program ini saat menghadiri panen raya padi apung pada Rabu, 29 Mei 2025. “Inilah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program ini adalah bagian dari visi HSU Bangkit sebagai pusat agrominapolitan yang bertujuan menopang logistik pangan Kalimantan Selatan.
Kolaborasi Lintas Pihak Mendorong Inovasi Padi Apung
Keberhasilan program padi apung di Banyu Hirang tidak lepas dari kolaborasi lintas pihak. Bank Indonesia (BI) Kalsel turut berkontribusi melalui program Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). BI mendorong model pertanian adaptif yang relevan dengan tantangan iklim saat ini.
Asisten Direktur BI Kalsel, Erik Muliawan, menekankan peran krusial teknologi dan inovasi dalam menghadapi krisis iklim dan keterbatasan lahan. “Kami percaya, petani bisa jadi ujung tombak perubahan lewat kolaborasi dan inovasi,” kata Erik.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Kalsel melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, yang menyerahkan satu unit mesin penggiling padi kepada Musran, perwakilan Kelompok Tani Karya Makmur. Bantuan ini bertujuan memperkuat infrastruktur pertanian lokal dan meningkatkan nilai tambah hasil panen.
Potensi Padi Apung: Solusi Adaptif Krisis Iklim dan Peningkatan Pendapatan
Padi apung adalah salah satu inovasi pertanian yang lahir sebagai respons adaptif terhadap perubahan iklim, khususnya di wilayah yang rentan terhadap banjir tahunan. Sistem ini telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan memberikan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan usaha tani padi konvensional. Dengan demikian, padi apung memiliki potensi besar untuk dikembangkan di lahan-lahan yang selama ini tidak dapat dimanfaatkan secara optimal akibat genangan air.
Tantangan dan Dukungan Lanjutan untuk Pengembangan Padi Apung
Meskipun menawarkan banyak keuntungan, pengembangan padi apung secara luas memerlukan dukungan serius. Peran pemerintah menjadi krusial, baik dalam bentuk kebijakan, pelatihan, maupun penyediaan sarana produksi yang memadai. Selain itu, riset lanjutan sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan teknologi budidaya ini, terutama terkait:
- Model rakit yang lebih murah dan tahan lama.
- Media tanam yang efektif.
- Teknik perawatan yang dapat meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.
Temuan ini selaras dengan hasil studi dalam jurnal “Padi Apung sebagai Inovasi Petani terhadap Dampak Perubahan Iklim di Pangandaran” karya Siti Suhartini dan Asep Saeful Rohman (2022). Penelitian tersebut menegaskan bahwa sistem padi apung bukan sekadar solusi teknis, melainkan juga langkah nyata untuk membangun ketahanan pangan di tengah krisis iklim, sekaligus membuka peluang bagi pertanian berkelanjutan yang adaptif. (Sumber:Suara.com)
Sumber : Padi Apung: Inovasi Petani Banyu Hirang HSU, Harapan Baru Ketahanan Pangan Kalsel
Leave a comment