1TULAH.COM-Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, sukses membuat suasana sidang paripurna menjadi lebih cair dengan pantun kocaknya. Dalam pantun tersebut, Muzani menyinggung hobi bersepeda Presiden Jokowi dan menyandingkannya dengan makanan khas Papua.
Sidang paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) kembali diwarnai dengan momen kocak. Kali ini, Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, sukses membuat hadirin tertawa dengan pantun yang ia bacakan saat menutup sidang.
Melalui akun Twitter @txtdrpemerintah, Minggu (20/10/2024), tersebar cuplikan video yang memperlihatkan Muzani membacakan pantun dengan nada jenaka. “Di hutan Papua pergi mencari madu. Makan sarden sama papeda,” ujar Muzani. Tak disangka, beberapa hadirin pun ikut serta melengkapi pantun tersebut dengan seruan “Cakep!”.
Muzani melanjutkan, “Kita semua pasti akan rindu. Pernah punya Presiden yang suka bagi-bagi sepeda.” Kalimat terakhir ini jelas ditujukan untuk Presiden Joko Widodo yang dikenal gemar bersepeda.
Pantun Jadi Bahasa Persatuan
Penggunaan pantun dalam acara resmi seperti sidang paripurna MPR menunjukkan betapa kayanya budaya Indonesia. Pantun tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan secara halus dan santun. Dalam konteks ini, pantun yang dilantunkan Muzani berhasil menciptakan suasana yang lebih akrab dan menyenangkan.
Respons Positif dari Netizen
Video cuplikan pantun Muzani tersebut viral di media sosial dan mendapat beragam komentar dari netizen. Banyak yang mengapresiasi kreativitas Muzani dalam menggunakan pantun untuk menyampaikan pesan. Selain itu, netizen juga merasa terhibur dengan kelucuan pantun tersebut.
Pesan Tersirat dalam Pantun
Di balik kelucuannya, pantun yang dilantunkan Muzani juga mengandung pesan yang mendalam. Ungkapan “pergi mencari madu” bisa diartikan sebagai upaya untuk mencari hal-hal yang baik dan bermanfaat. Sedangkan “makan sarden sama papeda” merujuk pada keberagaman kuliner Indonesia.
Pantun Muzani dalam sidang paripurna MPR menjadi bukti bahwa politik tidak selalu harus kaku dan serius. Dengan sedikit humor, suasana menjadi lebih cair dan pesan yang disampaikan pun lebih mudah diterima. Selain itu, penggunaan pantun juga menunjukkan kekayaan budaya Indonesia dan pentingnya melestarikan tradisi lisan. (Sumber:Suara.com)
Leave a comment