1TULAH.COM – Laporan khusus dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyoroti penyebab mahalnya harga rumah di Indonesia, yang mendorong pemerintah untuk mewajibkan kelas pekerja menjadi peserta Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) karena tingginya angka backlog.
Laporan tersebut menunjukkan adanya kelebihan penawaran rumah di segmen masyarakat kelompok pendapatan menengah ke atas, sementara kekurangan penawaran terjadi pada rumah dengan harga terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah.
Hal ini disebabkan oleh preferensi developer properti untuk membangun unit rumah dan apartemen di segmen atas, karena pertimbangan margin profit yang lebih besar.
Angka backlog di Indonesia masih tinggi, mencapai 12,7 juta unit rumah pada tahun 2023. Tingginya harga rumah juga disebabkan oleh harga lahan yang tinggi, biaya konstruksi yang meningkat, dan kebijakan pembiayaan yang belum optimal.
Tingkat harga rumah yang tinggi juga mengakibatkan daya beli masyarakat terhadap rumah rendah, terutama karena pertumbuhan harga rumah tipe kecil yang signifikan. Meskipun ada perlambatan pertumbuhan harga rumah baru-baru ini, harga rumah masih tinggi terutama di kota-kota besar.
Dalam konteks ini, pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan dan mempermudah akses perumahan yang terjangkau.
Meskipun telah meluncurkan berbagai program seperti Program 1 Juta Rumah dan subsidi perumahan, kebijakan tersebut masih dinilai belum cukup efektif untuk menangani backlog perumahan.
Secara keseluruhan, laporan tersebut menyoroti kompleksitas masalah perumahan di Indonesia dan mendesak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif untuk menangani masalah tersebut.
Sumber : LPEM FEB UI Sebut Orang Indonesia Sulit Punya Rumah Karna Harganya Tak Masuk Akal
Leave a comment