1TULAH.COM – Perayaan Tahun Baru Imlek sering kali ditandai dengan keberadaan kue keranjang, yang memiliki asal-usul menarik sebagai hadiah untuk para dewa.
Pada awalnya, kue ini diciptakan untuk memberikan imbalan kepada Dewa Dapur agar tidak memberikan laporan yang negatif tentang rumah seseorang kepada Kaisar Giok. Terbuat dari campuran tepung ketan dan gula, kue keranjang, atau yang dikenal sebagai nian gao, memiliki cita rasa manis yang mirip dengan dodol.
Legenda menyebutkan bahwa kue keranjang menjadi hidangan khas Tahun Baru Imlek karena kepercayaan bahwa Dewa Dapur mengunjungi setiap rumah dan memberikan “laporan tahunan” kepada Kaisar Giok pada akhir tahun. Untuk mencegah laporan yang negatif, orang-orang memberikan kue keranjang sebagai hadiah atau ‘sogokan’.
Nian gao diyakini telah ada sejak 2.000 tahun yang lalu.
Setelah diperkenalkannya Kalender China pada Dinasti Zhou, tradisi memberikan nian gao kepada dewa dan leluhur mulai berkembang. Selama Dinasti Tang, nian gao menjadi hidangan yang tak terpisahkan selama Festival Musim Semi.
Pada masa Dinasti Qing, meskipun dapat dinikmati sepanjang tahun, nian gao tetap menjadi hidangan khusus untuk perayaan festival.
Kue keranjang memiliki makna simbolis yang dalam, melambangkan kemakmuran dan peningkatan dari tahun ke tahun dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pekerjaan, bisnis, keluarga, dan pendidikan. Makan kue keranjang selama Tahun Baru Imlek dipercayai membawa keberuntungan.
Meskipun kue keranjang dapat dibeli sepanjang tahun, permintaannya meningkat secara signifikan saat Tahun Baru Imlek karena dipercaya dapat menguatkan hubungan keluarga, ikatan persaudaraan, dan bahkan mencegah orang-orang dari mengucapkan hal-hal negatif ketika berkumpul bersama.
Sumber : Makna Kue Keranjang khas Imlek Ternyata Untuk Menyogok Para Dewa
Leave a comment