1TULAH.COM-Nilai tukar Rupiah kembali berada di bawah tekanan hebat setelah data terbaru dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya aliran modal asing keluar (capital outflow) yang masif dari pasar keuangan domestik.
Sepanjang delapan bulan pertama tahun 2025, arus keluar modal ini mencapai triliunan Rupiah, membuat Rupiah tak berdaya hingga menembus level psikologis Rp 16.300 per dolar AS.
Fenomena ini menjadi sorotan utama bagi para investor, pelaku bisnis, dan masyarakat luas yang merasakan dampak langsung dari pelemahan mata uang. Meski demikian, di tengah tantangan tersebut, ada secercah harapan dari indikator risiko investasi yang justru menunjukkan perbaikan.
Capital Outflow Capai Rp 52,99 Triliun, Rupiah Tertekan
Direktur Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengungkapkan bahwa total aliran modal asing keluar secara neto dari pasar keuangan Indonesia telah mencapai angka mencengangkan, yaitu Rp 52,99 triliun. Angka ini merupakan akumulasi dari data setelmen hingga 21 Agustus 2025.
Secara lebih rinci, nonresiden atau investor asing tercatat melakukan jual neto sebesar Rp 52,99 triliun di pasar saham dan Rp 85,83 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun, di sisi lain, mereka juga tercatat beli neto sebesar Rp 71,63 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Data ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi investor asing yang cenderung menarik dananya dari aset berisiko seperti saham dan SRBI, namun masih menempatkan sebagian dananya di SBN yang dianggap lebih stabil.
Imbasnya, tekanan pada Rupiah tak terhindarkan. Permintaan dolar AS yang tinggi akibat keluarnya dana investor asing membuat nilai tukar Rupiah tertekan. Pelemahan ini berpotensi memicu kenaikan harga barang impor, inflasi, dan mengikis daya beli masyarakat.
Optimisme di Balik Premi Risiko Investasi yang Membaik
Di tengah badai capital outflow, ada kabar baik yang datang dari sisi premi risiko investasi. Credit Default Swap (CDS) Indonesia untuk tenor lima tahun justru menunjukkan tren perbaikan, turun ke level 66,97 basis poin (bps) per 21 Agustus 2025. Angka ini lebih baik dari posisi pekan sebelumnya yang berada di 67,72 bps.
Sebagai informasi, CDS adalah indikator penting untuk mengukur risiko berinvestasi di SBN. Semakin kecil skor CDS, maka persepsi risiko investasi di Indonesia dianggap semakin rendah.
Penurunan skor CDS ini mengirimkan sinyal positif bahwa meskipun pasar keuangan sedang bergejolak, fundamental ekonomi Indonesia masih dianggap cukup kuat. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap kemampuan pemerintah dan BI dalam mengelola risiko.
Komitmen Bank Indonesia Jaga Stabilitas
Menyikapi dinamika pasar yang volatil, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Melalui Direktur Komunikasi, Ramdan Denny, BI menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait lainnya.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” jelas Ramdan.
Langkah-langkah strategis seperti intervensi di pasar valuta asing dan SBN, serta penyesuaian kebijakan moneter, akan terus dioptimalkan oleh BI untuk meredam tekanan dan memastikan pasar keuangan tetap stabil.
Meskipun pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi tantangan berat akibat arus modal asing keluar yang signifikan, respons cepat dan terukur dari Bank Indonesia diharapkan mampu meredam gejolak yang terjadi. Kombinasi antara fundamental ekonomi yang solid, terlihat dari perbaikan CDS, dan koordinasi yang kuat antarotoritas menjadi kunci untuk menjaga stabilitas Rupiah dan perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global. (Sumber:Suara.com)
Sumber : Rupiah Goyah Dihantam Arus Modal Asing Keluar, BI Pasang Badan Jaga Stabilitas
Leave a comment