1TULAH.COM-Pasar kripto kembali dikejutkan dengan lonjakan harga Bitcoin (BTC) yang fenomenal. Aset digital terbesar di dunia ini berhasil menembus rekor baru, mencapai USD 124.000 atau setara dengan Rp 1,99 miliar (asumsi kurs Rp 16.109).
Kenaikan impresif ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan didorong oleh kombinasi beberapa faktor krusial, baik dari sisi makroekonomi global maupun adopsi korporat.
Peran Data Inflasi AS yang Stabil
Pemicu utama dari lonjakan harga Bitcoin kali ini adalah rilis data perekonomian dari Amerika Serikat. Data inflasi AS pada Juli 2025 tercatat stabil di 2,7% secara tahunan, sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 2,8%. Angka ini memberikan sinyal positif bahwa tekanan harga mulai terkendali.
Stabilnya inflasi ini memicu optimisme di kalangan investor global, yang kemudian meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga. Pelonggaran kebijakan moneter ini dipandang sebagai katalis yang akan meningkatkan likuiditas di pasar, dan pada akhirnya mendorong arus modal ke aset-aset berisiko, termasuk kripto.
Seorang pengamat pasar kripto di Jakarta, Antony, menyatakan bahwa kondisi ini adalah “pertemuan dua faktor besar: inflasi yang mulai terkendali di bawah ekspektasi pasar, dan peluang pemangkasan suku bunga yang sangat tinggi.” Kombinasi ini menciptakan iklim yang kondusif bagi modal global untuk lebih berani bergerak ke aset-aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Adopsi Korporat Semakin Masif
Selain faktor makro, penguatan Bitcoin juga didorong oleh tren adopsi yang semakin meluas dari kalangan korporat. Dalam beberapa pekan terakhir, terjadi peningkatan signifikan dalam pembelian Bitcoin oleh berbagai perusahaan. Tren ini dipopulerkan oleh perusahaan-perusahaan seperti MicroStrategy Incorporated, yang menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari strategi treasury jangka panjang mereka.
Langkah strategis dari korporasi besar ini tidak hanya memperkuat permintaan pasar, tetapi juga secara fundamental mengubah cara pandang terhadap Bitcoin. Dari yang awalnya hanya dianggap sebagai instrumen spekulasi, Bitcoin kini mulai diposisikan sebagai aset strategis dan penyimpan nilai jangka panjang oleh pelaku usaha berskala global.
Antony melihat langkah ini sebagai sinyal kuat yang mengubah lanskap investasi. Ketika korporasi mulai mengalihkan sebagian kas mereka ke Bitcoin, hal ini menunjukkan bahwa Bitcoin memiliki fungsi yang lebih dari sekadar aset alternatif, melainkan sebagai aset strategis yang dapat melindungi nilai dari inflasi.
Volatilitas adalah Peluang, Bukan Ancaman
Meski harga Bitcoin terus melonjak, volatilitas tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pasar kripto. Antony menyoroti bahwa bagi investor yang bijak, volatilitas bukanlah masalah yang harus dihindari, melainkan sebuah peluang yang harus dikelola.
“Banyak investor baru ingin volatilitas hilang, padahal justru di sanalah peluang berada. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca pola dan menetapkan batas risiko yang jelas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa strategi investasi yang matang harus mempertimbangkan diversifikasi. Meskipun Bitcoin sedang menjadi magnet, menaruh seluruh modal pada satu aset tunggal adalah bentuk konsentrasi risiko yang sangat tinggi. Investor yang cerdas akan memadukan aset berisiko seperti kripto dengan instrumen yang lebih stabil untuk menjaga keseimbangan portofolio mereka.
Dengan kombinasi faktor makro dan adopsi korporat yang kuat, rekor baru Bitcoin di level USD 124.000 bukan hanya sekadar hasil dari optimisme jangka pendek, melainkan cermin dari akumulasi kepercayaan pasar terhadap peran Bitcoin di masa depan sebagai aset strategis global. (Sumber:Suara.com)
Sumber : Bitcoin Cetak Rekor Baru, Tembus Rp 1,99 Miliar! Apa Pemicunya?
Leave a comment