Bahaya “Hustle Culture” yang Mengancam Kesehatan Mental Generasi Muda

Coltliq Ekajaya – 1tulah |

1TULAH.COM-Anda pasti pernah mendengar istilah “hustle culture” atau budaya gila kerja yang kini semakin populer, terutama di kalangan anak muda.

Budaya ini mendorong kita untuk terus bekerja, mengejar target tanpa henti, dan merasa bersalah saat mengambil waktu istirahat. Di balik semangatnya yang membara, “hustle culture” ternyata menyimpan bahaya besar yang mengancam kesehatan mental dan fisik.

Mengenal Lebih Dekat Apa Itu “Hustle Culture”

“Hustle culture” adalah pola pikir yang mengukur nilai seseorang dari seberapa produktif dan sibuknya mereka. Slogan seperti “grind 24/7” dan “sleep is for the weak” menggambarkan bagaimana budaya ini menempatkan pekerjaan di atas segalanya. Dalam lingkungan seperti ini, istirahat dianggap sebagai kelemahan dan waktu luang dianggap sebagai pemborosan.

Fenomena ini semakin diperparah dengan kemajuan teknologi. Sekarang, pekerjaan bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, membuat batasan antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi kabur. Banyak anak muda, terutama Gen Z, merasa tertekan untuk terus “berkembang” dan memanfaatkan setiap detik demi karier atau penghasilan tambahan. Jika tidak, mereka merasa tertinggal dari orang lain yang terlihat lebih sukses di media sosial.

Mengapa Gen Z Rentan Terjebak dalam “Hustle Culture”?

Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997-2012, tumbuh di tengah era digital, media sosial, dan perubahan dunia kerja yang sangat cepat. Mereka menyaksikan dampak krisis ekonomi dan pandemi yang membuat mereka ingin mandiri secara finansial secepat mungkin. Semangat ini mendorong mereka untuk bekerja keras, namun juga membuat mereka mudah terjebak dalam jebakan “hustle culture”.

Ada beberapa faktor yang membuat Gen Z rentan terhadap budaya ini, antara lain:

  • Keinginan Cepat Sukses dan Mandiri: Mereka ingin segera mencapai kesuksesan finansial agar tidak bergantung pada orang lain.
  • Merasa Tertinggal: Melihat kesuksesan teman-teman di media sosial sering kali menimbulkan perasaan cemas dan takut gagal.
  • Ketidakpastian Ekonomi: Kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat mereka merasa harus bekerja lebih keras untuk menjamin masa depan.
  • Tekanan Sosial: Adanya perbandingan diri dengan orang lain yang dianggap lebih sukses membuat mereka terus memacu diri tanpa henti.

Dampak Berbahaya “Hustle Culture” pada Kesehatan

Meskipun terlihat produktif di permukaan, dampak jangka panjang dari “hustle culture” sangatlah merugikan. Tekanan untuk terus bekerja tanpa istirahat dapat memicu berbagai masalah kesehatan, baik mental maupun fisik.

Dampak pada Kesehatan Mental

Terjebak dalam budaya gila kerja dapat menyebabkan:

  • Burnout: Kondisi kelelahan fisik dan mental yang parah karena stres kronis.
  • Kecemasan dan Depresi: Rasa cemas yang terus-menerus dan kehilangan minat pada hal-hal yang disukai.
  • Kehilangan Makna Hidup: Kelelahan membuat seseorang kehilangan semangat dan makna dari pekerjaan yang dijalani.

Tanda-tanda burnout sering kali tidak disadari, karena kelelahan dianggap sebagai bagian dari perjuangan. Jika Anda merasa bersalah saat beristirahat, sulit tidur karena memikirkan pekerjaan, atau mengabaikan kesehatan demi produktivitas, bisa jadi Anda sudah terjebak dalam kondisi ini.

Dampak pada Kesehatan Fisik

Selain mental, “hustle culture” juga berdampak buruk pada fisik. Pola tidur yang kurang dan stres berlebihan dapat meningkatkan risiko:

  • Penyakit Jantung dan Stroke: Stres kronis dan kurangnya istirahat memicu gangguan pada sistem kardiovaskular.
  • Sistem Imun Menurun: Tubuh yang lelah membuat Anda lebih mudah sakit.

Menciptakan Keseimbangan yang Lebih Sehat

Di tengah derasnya arus “hustle culture”, penting bagi Gen Z untuk menemukan definisi sukses yang lebih sehat. Sukses bukan hanya tentang karier atau gaji yang tinggi, tapi juga tentang memiliki keseimbangan hidup, hubungan yang baik, dan kesehatan mental yang terjaga.

Saatnya mengubah slogan “work hard, no days off” menjadi “work smart, rest well”. Bekerja keras memang penting, tapi istirahat dan menjaga diri jauh lebih krusial. Hidup adalah perjalanan panjang yang harus dinikmati, bukan perlombaan tanpa garis akhir. (Sumber:Suara.com)

Sumber : Bahaya “Hustle Culture” yang Mengancam Kesehatan Mental Generasi Muda

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started