1TULAH.COM-Akhir Juni lalu menjadi momen bersejarah bagi industri perfilman dengan kehadiran film “F1”. Film yang dibintangi oleh Brad Pitt ini langsung tancap gas sejak dirilis perdana dan kini berhasil mencetak rekor yang luar biasa.
Tak hanya menjadi film terlaris sepanjang karier Brad Pitt, “F1” juga dinobatkan sebagai film bioskop terlaris milik Apple Studios sepanjang sejarah.
Dominasi di Box Office Global
Film “F1” langsung menarik perhatian publik dengan raihan pendapatan domestik sebesar $57 juta AS di akhir pekan pertamanya. Angka ini terus meroket hingga kini berhasil melampaui pendapatan global film-film besar lainnya seperti Napoleon ($221,4 juta AS) dan Killers of the Flower Moon ($158,8 juta AS).
Menurut laporan dari Deadline, total pendapatan box office global “F1” telah mencapai $545,6 juta AS. Angka ini secara resmi memecahkan rekor film terlaris Brad Pitt sebelumnya, yaitu World War Z ($540,4 juta AS). Prestasi ini semakin luar biasa mengingat Brad Pitt telah berkarier selama puluhan tahun dengan deretan film blockbuster lainnya seperti Troy ($497,4 juta AS) dan Mr. & Mrs. Smith ($487,3 juta AS).
Kisah Dua Generasi: Sonny Hayes dan Joshua Pearce
“F1” menyajikan kisah yang lebih dari sekadar balapan. Film ini berpusat pada tokoh Sonny Hayes (diperankan Brad Pitt), mantan pembalap F1 yang pensiun dini setelah mengalami kecelakaan hebat di tahun 1990-an. Hidupnya berubah ketika ia didekati oleh Ruben Cervantes (Javier Bardem), mantan rekan setimnya yang kini memimpin tim F1 bernama APXGP.
Tim APXGP berada di ambang kehancuran: sudah tiga tahun tanpa kemenangan, terlilit utang besar, dan hanya mengandalkan satu pembalap pemula. Dengan sisa sembilan balapan di musim ini, Ruben mengajak Sonny untuk kembali ke lintasan, berharap kehadirannya bisa membalikkan keadaan. Sonny menerima tantangan ini, tidak hanya demi tim, tetapi juga untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih pantas berada di dunia balap tercepat di dunia.
Kembalinya Sonny ke lintasan menghadirkan duel menarik dengan Joshua Pearce (Damson Idris), seorang pembalap muda yang ambisius namun belum berhasil menunjukkan potensinya. Sonny adalah representasi dari era klasik balapan, yang mengandalkan intuisi, pengalaman, dan pendekatan yang tidak lazim. Ia lebih suka berlari mengelilingi sirkuit sehari sebelum balapan daripada latihan di gym.
Sementara itu, Joshua adalah cerminan dari era modern, di mana citra di media sosial dan teknologi canggih memegang peran penting. Ia berlatih dengan simulator berteknologi tinggi dan menguji setiap skenario balapan dengan detail. Kisah dua pembalap dengan pendekatan yang sangat berbeda ini menjadi inti yang kuat dalam film “F1” dan berhasil memikat penonton.
Analisis Kesuksesan dan Strategi di Balik Layar
Kesuksesan “F1” tidak lepas dari kombinasi daya tarik Brad Pitt sebagai aktor legendaris dan brand Formula 1 yang kini semakin populer secara global. Film ini mendapatkan skor “Certified Fresh” 83% di situs Rotten Tomatoes, sebuah bukti kualitas yang diakui kritikus.
Meskipun meraup pendapatan fantastis, film ini diperkirakan belum mencapai titik impas. Dengan anggaran produksi yang dilaporkan mencapai $300 juta AS, titik balik modalnya diprediksi sekitar $750 juta AS. Namun, perlu diingat bahwa Apple Studios tidak menjadikan pendapatan bioskop sebagai tujuan utama. Perilisan di layar lebar lebih berfungsi sebagai strategi promosi masif sebelum film ini eksklusif tayang di Apple TV+.
Dengan strategi ini, “F1” tetap dianggap sebagai kesuksesan besar. Film ini berhasil menciptakan buzz dan sorotan publik yang jauh melampaui film-film Apple sebelumnya. Keberhasilan “F1” membuktikan bahwa kombinasi cerita yang kuat, aktor papan atas, dan strategi distribusi yang cerdas dapat menghasilkan karya yang tidak hanya mengukir sejarah, tetapi juga mendefinisikan kembali kesuksesan di era streaming. (Sumber:Suara.com)
Leave a comment