Fenomena “Performative Male”: Mengapa Istilah Ini Mendadak Viral dan Apa Artinya?

Coltliq Ekajaya – 1tulah |

1TULAH.COM-Istilah “performative male” mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial X belakangan ini. Popularitasnya mencuat usai digelarnya ajang Performative Male Contest Jakarta yang berhasil mencuri perhatian warganet.

Bahkan, kompetisi ini diketahui dimenangkan oleh anak dari penulis ternama, Dee Lestari, seperti yang diungkapkan salah seorang netizen di X.

“Anak Dee Lestari became the winner of the Performative Male Competition was not on my 2025 bucket list,” tulis seorang netizen dalam unggahannya.

Namun, perlu diketahui bahwa istilah ini sebenarnya sudah lebih dulu muncul dan dibahas di media sosial sebelum adanya kontes tersebut. Lantas, apa sebenarnya arti performative male dan mengapa istilah ini bisa menjadi viral?

Apa Itu “Performative Male”?

Dalam studi yang dilakukan oleh Hsing-Yuan Liu, istilah “performative masculinity” mengacu pada perilaku pria yang dibuat-buat agar tampak maskulin di hadapan publik. Perilaku ini tidak selalu mencerminkan kepribadian atau kondisi aslinya. Tujuannya semata-mata untuk memenuhi ekspektasi sosial bagaimana seharusnya laki-laki terlihat.

Salah satu wujud nyatanya bisa dilihat dari gaya berpakaian. Banyak pria memilih busana atau tampilan tertentu demi menciptakan kesan kuat, dominan, dan gagah, atau tampil sesuai standar maskulinitas agar tidak dianggap lemah atau berbeda.

Evolusi “Performative Male” di Era Digital

Hsing-Yuan Liu menyoroti bahwa fenomena ini kini juga marak di media sosial. Dunia digital menjadi ruang baru bagi pria untuk menampilkan citra sebagai “pria sejati”. Citra tersebut dibentuk demi mendapat pengakuan dari lingkungan atau kelompok sebaya. Dalam konteks ini, maskulinitas pun berubah fungsi dan bukan lagi soal jati diri.

Lebih lanjut, penelitian dari Esquire menunjukkan bahwa pria muda kini mulai menyusun citra mereka berdasarkan selera perempuan masa kini. Ini bukan sekadar tampil macho; mereka justru menonjolkan sisi emosional dan pemikiran yang mendalam. Hal ini tercermin dari ketertarikan mereka salah satunya pada sastra.

Sosok “performative male” dianggap lebih relatable oleh banyak perempuan karena mengingatkan pada karakter fiksi yang kompleks dan manusiawi.

“Performative Male” dan Perbedaannya dengan “Male Gaze”

Fenomena “performative male” jelas berbeda dari konsep “male gaze” yang dikenalkan Laura Mulvey pada era 1970-an, yang menyoroti dominasi pandangan laki-laki dalam media dan film. Sebaliknya, tren ini lebih dekat dengan konsep “female gaze”, yakni cara perempuan memandang laki-laki dengan perspektif yang lebih empatik, emosional, dan personal.

Fenomena ini bahkan pernah dijadikan lomba di New York, dengan pesertanya tampil dengan gaya khas, yaitu membawa tote bag, memakai earphone, dan memegang boneka unik. Di ranah hiburan, aktor seperti Timothee Chalamet dan Paul Mescal sering disebut sebagai representasi “performative male”. (Sumber:Suara.com)

Sumber : Fenomena “Performative Male”: Mengapa Istilah Ini Mendadak Viral dan Apa Artinya?

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started