Bukan Miskomunikasi? 3 Kejanggalan Penyerangan Rumah Doa yang Memicu Pertanyaan

Coltliq Ekajaya – 1tulah |

1TULAH.COM-Narasi resmi “miskomunikasi” yang beredar mengenai insiden penyerangan rumah doa yang melukai anak-anak akibat pukulan kayu, terasa terlalu sederhana untuk sebuah tragedi sebesar ini.

Sementara kepolisian tengah memburu para pelaku di lapangan, serangkaian fakta ganjil yang terjadi detik-detik sebelum serangan mengarah pada pertanyaan yang lebih gelap: Apakah insiden penyerangan rumah doa ini benar-benar spontan, atau ada dalang di baliknya?

Berikut adalah tiga kejanggalan besar yang menuntut penyelidikan mendalam, melampaui sekadar penangkapan pengeroyok di lokasi kejadian:


1. Skenario “Pengamanan” Janggal oleh Aparat Lokal

Titik krusial yang paling mencurigakan adalah tindakan aparat lokal. Menurut pengakuan Pendeta F. Dachi, sebelum amuk massa pecah, ia justru “diamankan” oleh Ketua RT dan Lurah.

“Mereka memanggil saya dan membawa saya ke belakang. Salah satu di antara mereka menyatakan untuk bubarkan dan hentikan kegiatan,” ungkap Pendeta Dachi.

Tindakan ini memunculkan kecurigaan besar. Alih-alih bertindak sebagai penengah untuk mencegah insiden, aparat lokal justru seolah memberi jalan bagi massa untuk menyerang saat pemimpin jemaat tidak berada di lokasi. Ini bukan mediasi; ini justru terasa seperti sebuah skenario terencana yang sengaja menciptakan celah bagi terjadinya penyerangan.


2. Serangan Terorganisir, Bukan Amuk Spontan

Meskipun narasi awal mungkin mengarah pada keributan spontan, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Penyerangan rumah doa ini memperlihatkan indikasi aksi yang terencana dan terorganisir. Pola penyerangan, penggunaan alat seperti kayu, dan mobilisasi massa dalam waktu singkat mengisyaratkan adanya dalang yang tahu betul bagaimana memprovokasi dan mengeksekusi aksi kekerasan.

Ini bukan sekadar amuk massa yang emosional, melainkan serangan yang kemungkinan besar telah disiapkan sebelumnya oleh pihak-pihak tertentu. Pertanyaan besar yang muncul adalah, siapa yang bertanggung jawab atas perencanaan dan mobilisasi ini?


3. Lumpuhnya Sistem Peringatan Dini Aparat

Setiap insiden besar, terutama yang melibatkan mobilisasi massa, biasanya didahului oleh riak-riak atau tanda-tanda awal. Pasti ada rapat warga, hasutan di grup WhatsApp, atau mobilisasi tersembunyi yang terjadi sebelum penyerangan.

Lalu, di mana peran intelijen dasar dari aparat terdepan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas? Kelumpuhan total sistem peringatan dini ini adalah kejanggalan terbesar. Apakah aparat benar-benar tidak tahu, tidak mampu mendeteksi potensi konflik, atau ada unsur pembiaran agar insiden ini terjadi sebagai “pemberi pelajaran” bagi jemaat?

Kegagalan sistem peringatan dini ini sangat mengkhawatirkan dan menuntut penyelidikan mendalam untuk mengetahui apakah ada kelalaian, ketidakmampuan, atau bahkan keterlibatan pihak-pihak tertentu yang memungkinkan tragedi ini terjadi.


Kejanggalan-kejanggalan ini menunjukkan bahwa insiden penyerangan rumah doa ini jauh lebih kompleks daripada sekadar “miskomunikasi.” Penyelidikan harus dilakukan secara menyeluruh dan transparan untuk mengungkap fakta sebenarnya, menemukan dalang di balik tragedi ini, dan memastikan keadilan bagi para korban.

Bagaimana menurut kalian, apakah ketiga kejanggalan ini cukup kuat untuk menuntut penyelidikan lebih lanjut terhadap insiden ini? (Sumber:Suara.com)

Sumber : Bukan Miskomunikasi? 3 Kejanggalan Penyerangan Rumah Doa yang Memicu Pertanyaan

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started