1TULAH.COM-Ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, berpotensi memicu guncangan signifikan pada pasar energi global. Hal ini diungkapkan oleh Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, pada Senin, 23 Juni 2025. Ancaman ini menjadi perhatian serius bagi perekonomian Indonesia yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi.
Dampak Langsung pada Harga Minyak dan Neraca Perdagangan
Menurut Yusuf, ancaman terbesar dari konflik ini terhadap ekonomi Indonesia adalah potensi lonjakan harga minyak dunia. Mengingat Indonesia saat ini bukan lagi eksportir minyak bersih, setiap kenaikan harga minyak mentah secara langsung akan berdampak pada biaya impor negara. Ini akan memberikan tekanan pada neraca perdagangan, karena pengeluaran untuk impor minyak akan meningkat drastis.
“Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, punya potensi memicu guncangan besar pada pasar energi global,” ujar Yusuf, dikutip dari Antara. Kenaikan harga minyak, seperti yang sudah terlihat, menjadi indikator awal dari dampak yang lebih luas. Anadolu Agency melaporkan bahwa harga minyak mentah telah melonjak 11 persen selama seminggu terakhir yang berakhir pada 19 Juni, dipicu oleh ketegangan ini. Harga spot minyak mentah Brent naik dari $69,65 per barel pada 12 Juni menjadi $77,32 per barel pada 19 Juni, sementara harga West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan serupa.
Pelemahan Rupiah dan Tekanan Subsidi BBM
Dampak lanjutan yang paling cepat terasa dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketidakpastian global adalah pada nilai tukar (kurs) rupiah. Yusuf menjelaskan bahwa dalam situasi seperti ini, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk dialihkan ke aset safe haven seperti dolar Amerika Serikat (AS) atau emas.
Pola ini, yang telah berulang kali terlihat dalam krisis global sebelumnya, secara langsung memicu volatilitas pasar mata uang dan menyebabkan pelemahan kurs rupiah. Pelemahan rupiah ini kemudian akan membawa implikasi serius, terutama terhadap beban subsidi pemerintah. Ketika harga minyak dunia naik dan rupiah melemah, harga keekonomian Bahan Bakar Minyak (BBM) otomatis akan melonjak.
Jika pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, selisih antara harga pasar dan harga jual harus ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam bentuk tambahan subsidi energi. “Artinya, ruang fiskal menjadi semakin sempit, dan ini bisa mengganggu prioritas anggaran lain seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan,” ucap Yusuf.
Belajar dari Konflik Rusia-Ukraina: Antisipasi Serius Diperlukan
Situasi ini menimbulkan nuansa déjà vu terhadap dampak ekonomi yang terjadi di awal perang Rusia-Ukraina, di mana eskalasi konflik menyebabkan lonjakan tajam harga komoditas, ketidakpastian pasar keuangan, hingga tekanan berat terhadap subsidi energi nasional.
Yusuf menekankan, “Meskipun magnitudo konflik Iran-Israel saat ini belum sebesar invasi Rusia ke Ukraina, bukan berarti dampaknya bisa diremehkan. Justru karena sifat konflik ini berpotensi meluas di kawasan yang menjadi poros energi dunia, antisipasi harus tetap dilakukan secara serius.”
Pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu mempersiapkan strategi mitigasi untuk menghadapi potensi guncangan ekonomi yang mungkin terjadi, agar stabilitas perekonomian nasional tetap terjaga. (Sumber:Suara.com)
Sumber : Konflik Iran-Israel: Ancaman Guncangan Ekonomi & Lonjakan Harga Minyak di Indonesia
Leave a comment