1TULAH.COM – Nilai tukar rupiah dibuka dengan penurunan, telah mencapai lebih dari Rp16. 400 untuk setiap dolar Amerika Serikat. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea menyatakan bahwa ini disebabkan oleh serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap tiga lokasi nuklir di Iran.
Serangan tersebut menyebabkan ketidakstabilan di pasar keuangan sehingga mengakibatkan rupiah tertekan oleh dolar Amerika Serikat.
“Sejalan sentimen risk off di pasar keuangan global paska serangan AS ke 3 fasilitas nuklir Iran yang sekaligus merupakan sikap resmi AS yang telah terlibat perang dengan Iran telah mendorong aksi flight to quality_ di pasar keuangan global,” kata Erwin.
Dia menyatakan bahwa aset yang dianggap aman seperti emas, dolar AS, dan obligasi pemerintah AS mengalami peningkatan pada pagi ini. DXY naik 0,37 persen. Hal ini jelas membuat mata uang negara-negara maju juga terdepresiasi terhadap dolar.
“Mata uang negara maju G10 seperti EUR, GBP, JPY semua mengalami pelemahan terhadap USD. Demikian pula mata uang regional seperti KRW, MYR, dan PHP dibuka melemah,” katanya.
Sejalan dengan itu, nilai Rupiah diprediksi akan mengikuti tren mata uang di kawasan. Di sisi lain, aset yang berisiko seperti Indeks saham berjangka AS menunjukkan penurunan, diikuti oleh indeks-indeks saham di kawasan, termasuk Nikkei, Kospi, dan Straits Times yang juga mengalami penurunan.
“Sejalan dengan sentimen risk off yang terjadi di pasar, untuk menjaga stabilisasi nilai tukar Rupiah agar sejalan dengan fundamental dan menjaga pergerakan Rupiah sejalan dengan pergerakan mata uang regional,” katanya.
BI akan terus melakukan intervensi pada transaksi NDF di pasar internasional serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik. Pendekatan ini juga meliputi pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga kestabilan dalam sektor keuangan.
Sebelumnya, nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan hingga berada di Rp16. 454,5 pada perdagangan hari ini, Senin (26/5/2025). Di sisi lain, dolar AS menguat setelah negara tersebut melakukan serangan terhadap Iran.
Menurut laporan dari Bloomberg, rupiah dibuka melemah sebanyak 58 poin atau 0,35% ke level Rp16. 454,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS mengalami kenaikan sebesar 0,34% menjadi 99,04.
Di saat yang sama, sebagian besar mata uang di Asia juga menunjukkan pelemahan. Yen Jepang mengalami penurunan sebesar 0,37% sementara won Korea Selatan turun 0,85%. Di samping itu, yuan China dan ringgit Malaysia juga melemah sebesar 0,09% dan 0,63% secara berurutan.
Sebagai catatan, likuiditas ekonomi atau jumlah uang yang beredar secara luas (M2) pada Mei 2025 menunjukkan pertumbuhan yang melambat.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny mengungkapkan bahwa posisi M2 pada Mei 2025 tercatat sebesar Rp9. 406,6 triliun dengan pertumbuhan hanya 4,9% (yoy).
Sebelumnya, pada bulan yang lalu, pertumbuhannya mencapai 5,2% (yoy). “Perkembangan ini dipicu oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 6,3% (yoy) serta uang kuasi yang meningkat 1,5% (yoy),” ujarnya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (23/6/2025).
Lebih lanjut, perubahan M2 pada Mei 2025 sebagian besar dipengaruhi oleh perkembangan dalam penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Penyaluran kredit di bulan Mei 2025 mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,1% (yoy), setelah sebelumnya tumbuh 8,5% (yoy).
“Tagihan bersih kepada Pempus terkontraksi sebesar 25,7% (yoy), melanjutkan kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 21,0% (yoy). Sementara itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 3,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebesar 3,6% (yoy) pada April 2025,” katanya.
Sementara itu, performa transaksi ekonomi serta keuangan digital pada Mei 2025 masih menunjukkan pertumbuhan yang didukung oleh sistem pembayaran yang terlindungi, efisien, dan dapat diandalkan.
Dalam hal transaksi, pembayaran digital pada Mei 2025 mencatatkan 3,93 miliar transaksi, meningkat 27,88% (tahun ke tahun) berkat perkembangan semua komponennya.
Jumlah transaksi melalui aplikasi mobile dan internet terus meningkat masing-masing sebesar 29,32% (tahun ke tahun) dan 7,54% (tahun ke tahun).
Selain itu, volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS juga tumbuh pesat mencapai 151,70% (tahun ke tahun) didorong oleh bertambahnya jumlah pengguna dan pedagang.
Dari segi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses lewat BI-FAST mencapai 393,73 juta transaksi, naik 45,45% (tahun ke tahun), dengan total nilai sebesar Rp969,43 triliun.
Sementara itu, volume transaksi nilai besar yang ditangani melalui BI-RTGS mengalami penurunan sebesar 6,08% (tahun ke tahun) menjadi 0,77 juta transaksi dengan total nilai Rp14. 450,03 triliun.
Di bidang pengelolaan uang Rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) meningkat 10,10% (tahun ke tahun) menjadi Rp1. 143,09 triliun pada Mei 2025.
Kestabilan sistem pembayaran tetap terjaga, didukung oleh infrastruktur yang kokoh dan struktur industri yang sehat.
Dari aspek infrastruktur, kestabilan sistem pembayaran terlihat pada pelaksanaan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) yang berfungsi dengan baik dan dapat diandalkan, serta cukupnya pasokan uang dalam jumlah dan kualifikasi yang sesuai pada Mei 2025.
Dalam hal struktur industri, kolaborasi antar pelaku dalam sistem pembayaran semakin kuat seiring dengan berkembangnya ekosistem Ekonomi Keuangan Digital (EKD).
Bank Indonesia terus memastikan ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah yang memadai dengan kualitas yang baik di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk area Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T).
Sumber : Amerika Serikat Menjadi Penyebab Turunnya Nilai Tukar Rupiah
Leave a comment