RI Posisi Tiga Dunia dalam Urusan Penggunaan Tembakau

Coltliq Ekajaya – 1tulah |

1TULAH.COM – Indonesia berada di urutan ketiga tertinggi di dunia untuk jumlah perokok. Fakta mengejutkan ini menjadi latar belakang pentingnya diadakannya Asia-Pacific Conference on Harm Reduction 2025 di Bandung, Jawa Barat, pada akhir pekan lalu.

Konferensi yang merupakan hasil kerjasama antara The Center of Excellence for the Acceleration of Harm Reduction (CoEHAR) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) ini, menekankan pentingnya pendekatan inovatif dan berbasis bukti dalam mengatasi dampak dari kebiasaan merokok.

Wakil Rektor di bidang Riset, Kerja Sama, dan Pemasaran Unpad, Profesor Rizki Abdulah, menegaskan bahwa pertemuan ini merupakan langkah penting dalam membangun jaringan riset di tingkat internasional.

“Indonesia, seperti banyak negara lain di kawasan Asia, saat ini berada pada titik kritis dalam pengendalian tembakau. Maka dari itu, kita memerlukan pendekatan berbasis bukti yang kuat, agar kebijakan publik yang dihasilkan memiliki fondasi yang kokoh dan berdampak nyata,” ujar Prof. Rizki Senin (16/6/2025)

Sejalan dengan pendapat Prof. Rizki, Prof. Amaliya, seorang Guru Besar di Fakultas Kedokteran Gigi Unpad, menegaskan bahwa usaha untuk mengendalikan kebiasaan merokok tidak dapat lagi bergantung pada metode yang biasa. Ia meminta dukungan yang solid dari penelitian terbaru, pendekatan pengurangan risiko yang didasarkan pada bukti, serta kerja sama dari berbagai disiplin yang melibatkan para akademisi, tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, hingga masyarakat.

“Indonesia masih berada di posisi ketiga tertinggi dalam jumlah perokok di dunia. Konferensi ini menjadi kesempatan kita untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta menyampaikan gambaran komprehensif dari temuan dan penelitian terbaru tentang merokok dan strategi harm reduction. Tujuan kami adalah untuk meningkatkan pemahaman dan implementasi pendekatan ilmiah dan medis dalam menangani persoalan merokok,” jelas Prof. Amaliya.

Konferensi ini turut menghadirkan Prof. Riccardo Polosa, seorang Guru Besar di bidang Ilmu Penyakit Dalam dari Universitas Catania, Italia, serta pendiri CoEHAR. Prof. Polosa menegaskan bahwa usaha untuk berhenti merokok dan metode pengurangan bahaya merupakan dua aspek yang saling mendukung.

“Perlu digarisbawahi bahwa upaya berhenti merokok dan harm reduction bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling terintegrasi,” tegasnya. “Tidak ada gunanya memperdebatkan hal-hal kecil yang justru menghambat kemajuan kita dalam upaya pengurangan dampak buruk dari merokok. Kita harus bekerja sama karena tujuannya sama, menyelamatkan nyawa dan membantu mereka yang masih merokok.” paparnya.

Selain pembicaraan tentang strategi, acara konferensi ini juga berfungsi sebagai platform untuk menampilkan proyek kerjasama antara Unpad dan Universitas Catania, salah satunya adalah Proyek REPLICA. Selain itu, sebuah program bernama Talent Research Award juga diperkenalkan untuk mendukung kemandirian ilmiah para peneliti muda di negara-negara berkembang, menciptakan visi CoEHAR yang bertujuan untuk memberdayakan ilmuwan lokal agar dapat menjalankan penelitian berstandar internasional secara mandiri.

Prof. Polosa mengakhiri dengan pernyataan yang mengesankan: “Kami percaya bahwa sains menawarkan solusi nyata. Namun, untuk mengubah sains menjadi dampak nyata bagi masyarakat, kita butuh regulasi yang progresif, kebijakan yang inklusif, dan strategi terpadu yang menyatukan bidang kesehatan, pendidikan, dan inovasi.”

Dengan posisi Indonesia sebagai negara ketiga terbesar dalam hal penggunaan tembakau, konferensi ini menjadi momen penting bagi semua pihak yang terlibat untuk bersatu dan mengembangkan kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih efektif dan berbasis bukti, demi menciptakan masa depan yang lebih sehat bagi bangsa.

Statistik perokok di Indonesia menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 melaporkan bahwa ada sekitar 70 juta perokok aktif di negara ini, dengan 7,4% di antaranya berusia antara 10 hingga 18 tahun. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi yang cukup tinggi dalam hal angka prevalensi perokok, meskipun telah ada usaha untuk mengurangi penggunaan rokok.

Sumber : RI Posisi Tiga Dunia dalam Urusan Penggunaan Tembakau

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started