1TULAH.COM – Tim Olimpiade Israel menyebutkan sejumlah atlet sudah menerima ancaman ketika mereka bertanding di Paris di tengah meningkatnya ketegangan atas kematian warga Palestina selama perang di Gaza dan ancaman konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Yael Arad, presiden Komite Olimpiade Nasional Israel, menyebutkan kepada Associated Press pada hari Selasa bahwa anggota tim sudah menerima ancaman “terpusat” yang dimaksudkan untuk menimbulkan “teror psikologis” pada para atlet, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Pekan lalu, jaksa penuntut Paris membuka penyelidikan atas ancaman pembunuhan melalui email terhadap atlet Israel, dan badan kejahatan dunia maya nasional tengah menyelidiki kebocoran data pribadi beberapa atlet Israel secara online, yang sejak itu sudah dihapus.
Jaksa juga meluncurkan penyelidikan atas hasutan kebencian rasial usai atlet Israel menerima “isyarat diskriminatif” selama pertandingan Israel-Paraguay.
Tom Reuveny, atlet Israel berusia 24 tahun yang memenangkan medali emas dalam selancar angin akhir pekan lalu, termasuk di antara mereka yang mengaku menerima ancaman. Politik “harus dikesampingkan” selama Olimpiade, katanya kepada AP, keika berbicara pada hari Selasa tentang serangan mematikan yang menargetkan delegasi Israel pada Olimpiade 1972 di Munich, Jerman. Serangan 5 September 1972 yang dilakukan oleh kelompok Palestina Black September menewaskan 11 warga Israel dan seorang petugas polisi.
“Saya rasa politik apa pun tidak boleh dilibatkan dalam olahraga, terutama di Olimpiade,” kata Reuveny. “Sayangnya, ada banyak pihak politik yang terlibat – bukan dalam Olimpiade – dari orang-orang yang tidak ingin kita berkompetisi dan tidak ingin kita berada di sini. Saya mendapat banyak pesan dan ancaman.”
Walaupun Israel sudah menyerukan agar Olimpiade tetap menjadi tempat yang netral, delegasi Palestina sudah menggunakan Olimpiade tersebut sebagai cara untuk membangkitkan perbincangan tentang perjuangan sehari-hari warga Gaza.
Perang Israel-Hamas sudah merenggut lebih dari 39.000 nyawa warga Palestina.
“Hal yang benar-benar menyakitkan saya adalah saat ini orang-orang memandang warga Palestina hanya sebagai angka. Jumlah orang yang meninggal. Jumlah orang yang mengungsi,” kata perenang Olimpiade Palestina-Amerika Valerie Tarazi kepada AP pada hari Minggu.’
“Sebagai atlet, kami berada di sini sama seperti orang lain. Kami ingin bersaing. Sebagai manusia, kita memiliki kehidupan. … Kami ingin tinggal di rumah kami, sama seperti orang lain di dunia,” tambahnya.
Dunia berkumpul di Paris ketika pergolakan politik global, berbagai perang, migrasi bersejarah, dan krisis iklim yang semakin parah, semua isu ini menjadi topik utama perbincangan di Olimpiade.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat menyusul pembunuhan seorang komandan senior Hizbullah di Lebanon dan pemimpin politik utama Hamas di Iran pada pekan lalu, yang diduga merupakan serangan Israel. Kedua kelompok itu didukung oleh Iran.
Peringatan serangan tahun 1972 pada hari Selasa menggarisbawahi bagaimana Olimpiade sering kali terjebak dalam krisis internasional yang tak terkait langsung dengan olahraga.
Presiden Komite Olimpiade Internasional Thomas Bach menyebutnya sebagai “hari paling gelap dalam sejarah Olimpiade” dan “sebuah serangan terhadap budaya perdamaian yang dipromosikan oleh Olimpiade.”
Pihak berwenang Perancis mengatakan serangan Munich sebagai salah satu alasan untuk meningkatkan keamanan selama Olimpiade Paris, dan atlet Israel berada di bawah penjagaan 24 jam oleh unit polisi Perancis.
Tim Olimpiade Palestina sudah menuntut agar IOC melarang Israel berkompetisi di Paris, dengan menuduh negara itu telah melanggar piagam Olimpiade. Pekan lalu, delegasi Palestina menyebutkan mereka belum menerima tanggapan dari IOC dan berencana mengajukan permohonan ke pengadilan olahraga yang lebih tinggi.
Tim Israel mendapat cemoohan di stadion ketika lagu kebangsaan negara itu dinyanyikan, dan para atlet tiba di acara tersebut di bawah pengawalan ketat polisi, termasuk mobil polisi antihuru-hara.
“Tidak mudah menjadi atlet Israel di arena internasional saat ini,” kata Arad, ketua komite Olimpiade Israel. Olimpiade adalah “jembatan antar manusia, antar negara, antar agama. Dan kami di sini untuk bersaing.”
Sumber : Jadi Sasaran Kebencian, Atlet Israel di Olimpiade Paris Mengeluh Alami Teror Psikologis
Leave a comment