1TULAH.COM – Jika pernah berkunjung ke Bali, pasti Anda akan mengenali kain kotak hitam putih yang sering ditempatkan di pohon, patung, atau objek lainnya. Kain tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan memiliki makna mendalam terkait dengan keseimbangan alam.
Dikenal sebagai kain poleng atau saput poleng, kain kotak hitam putih memiliki arti yang sesuai dengan namanya. Istilah “saput” mengacu pada pembalut, sedangkan “poleng” merujuk pada pola warna hitam dan putih yang bergantian. Pola ini merepresentasikan konsep Rwa Bhineda, yang menunjukkan keseimbangan alam dengan jumlah kotak hitam dan putih yang sama.
Konsep Rwa Bhineda mencerminkan kehidupan yang seimbang, dengan warna putih melambangkan kesadaran dan kebijaksanaan, sementara warna hitam melambangkan sifat-sifat yang berlawanan. Secara filosofis, kain kotak hitam putih ini mencerminkan bahwa ada dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam dunia ini, seperti siang-malam, panas-dingin, dan sebagainya.
Penggunaan kain poleng oleh pecalang (petugas keamanan desa adat) juga memiliki makna tersendiri. Mereka diharapkan menjadi pengaman yang mampu membedakan antara baik dan buruk, serta memahami konsep Rwa Bhineda. Dengan kedewasaan intelektual dan kewaspadaan, mereka diharapkan mampu mengelola situasi dengan bijaksana.
Kain kotak hitam putih memiliki berbagai fungsi di Bali, termasuk sebagai hiasan untuk patung, umbul-umbul, dan tedung di pura, serta sebagai penanda bahwa benda atau tempat yang dihiasi memiliki kekuatan magis yang perlu dihormati. Selain itu, kain poleng juga digunakan sebagai pengingat untuk menjaga lingkungan, hiasan di perkantoran dan hotel, serta atribut di dramatari atau pedalangan.
Di Bali, terdapat beberapa jenis kain kotak hitam putih yang dikenal, seperti Saput Poleng Rwa Bhineda, Saput Poleng Sudhamala, dan Saput Poleng Tridatu, masing-masing dengan makna dan simboliknya dalam budaya Bali yang khas.
Sumber : Ini Makna Kain Kotak Hitam Putih Khas Bali, Ternyata Bukan Sekedar Hiasan
Leave a comment