1TULAH.COM-Kebutuhan atau permintaan minyak nabati dunia cendrung meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini tentunya harus didorong dengan peningkatan perekebunan kelapa sawit yang merupakan bahan pokok minyak nabati.
Namun saat ini ada kecenderungan pula bahwa produksi minyak kelapa sawit mengalami penurunan. Hal ini lantaran dipicu semakin kurang produktifnya pohon kelapa sawit yang sudah ada.
Oleh karenanya perlu didorong adanya perluasan lahan perkebunan kelapa sawit. Bagaimana caranya?
Indonesia pada tahun 2023 menyetujui penanaman kembali pohon kelapa sawit seluas 53.012 hektare di lahan milik para petani kecil di bawah program bersubsidi, menurut data dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Rabu (10/1/2024).
Luas penanaman kembali meningkat dari 30.759 hektare pada tahun 2022, namun masih berada di bawah target tahunan Indonesia. BPDPKS bertugas menyalurkan subsidi penanaman kembali pohon kelapa sawit.
Indonesia, produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, menetapkan target untuk menanam kembali 180.000 hektare pohon kelapa sawit di lahan petani-petani kecil setiap tahunnya, untuk meningkatkan produksi tanpa harus membuka lebih banyak hutan.
Para ahli mengatakan Indonesia perlu segera menanam kembali pohon kelapa sawitnya, karena hasil panen menurun sementara permintaan minyak nabati meningkat, termasuk untuk biodiesel.
Skema peremajaan kelapa sawit oleh petani kecil diluncurkan pada tahun 2016 dan awalnya menargetkan penggantian sekitar 2,5 juta hektare pohon tua pada tahun 2025.
Namun hanya 326.308 hektare yang disetujui pada akhir tahun 2023, dan hanya 205.524 hektar yang benar-benar ditanam. (Sumber:voaindonesia.com)
Leave a comment